Guru yang Melestarikan Budaya Melayu

entah sebab apa saya ingin menuliskan namanya di dalam blog ini.  hari ini saya sedang mengingatnya, apakah mungkin karena Ia dalam keadaan sakit dan butuh bantuan? ah.. sepertinya bukan karena itu: saya tertarik dengan perbuatan yang telah ia laukan, menanamkan rasa ke-melayu-an pada generasi muda Tanjungpinang sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu.

hari itu, kurang lebih sebulan yang lalu, saya mengunjungi rumahnya. masih ditempat yang sama seperti 10 tahun yang lalu. ya, 10 tahun yang lalu: hari pertama saya mengunjungi rumahnya, belajar menari melayu.  banyak kenangan yang terus melekat di benak saya, apa lagi saat melewati teras rumahnya: teras tempat pertama kali saya melangkahkan rentak zapin dan serampang duabelas yang diajarkannya.

hari itu sengaja saya membawa serta istri saya ke rumah beliau, pak amir tak pernah hadir pada hari pernikahan saya, saat itu beliau sedang sakit. ya sakit yang telah lama ia derita, sejak kecelakaan lalu lintas itu.

seperti biasa, beliau senang bercerita dengan topik apa saja. ia lebih suka kalau tetang sakitnya itu tidak dibahas. ia menganggap dirinya tak pernah sakit seperti ini. beliau cukup tegar dengan keadaannya saat ini.

Pak Amir (begitulah kami biasa memanggilnya) adalah seorang guru dan seniman yang sangat menjaga tadisi dan kebudayaan melayu. ia seorang penari, koreografer tari, pengajar tari, penutur melayu, penulis buku, pembicara dalam seminar-seminar bahasa, mendalami kesusasteraan, pintar berpantun, berpuisi, membaca gurindam, pak amir selalu saja di sibukkan dengan kegiatan yang beraroma pendidikan, kebuayaan dan kesenian. bagi kami, pak amir adalah gudang ilmu kesenian dan kebudayaan melayu. 

saat itu (saat saya menjenguknya) ia bercerita bahwa ia telah berusaha mengobati penyakit yang ia derita setelah kecelakaan lalu lintas. berobat ke malaka hospital di malaysia hingga ke jakarta, tapi tetap saja gumpalan darah di kepalanya belum bisa disedot, ia membutuhkan biaya operasi. gumpalan darah itu menyebabkan pak amir tidak bisa berangkat mengajar, hal itu menyebabkan gangguan pada syaraf-syarafnya. pak amir membutuhkan bantuan untuk operasi penyedotan darah di kepalanya itu.

lewat facebook telah saya umumkan perihal sakitnya tersebut, dan banyak tanggapan kawan2 alumni SMA I yang ingin membantu beliau. semoga saja lewat tulisan ini, banyak kawan2 dan siapa saja yang tergerak hatinya membantu meringankan beban pak amir.

jika pak amir sembuh, kami akan kembali menggali ilmu yang ia miliki, mengeksplorasi kebudayaan melayu dari kepalanya yang sekarang sedang dipenuhi gumpalan darah dan harus segera diangkat.

~ by Mhd Dedy Saputra on March 30, 2009.

2 Responses to “Guru yang Melestarikan Budaya Melayu”

  1. pak amir diceritakan sebagai seorang guru
    yang layaknya saya sendiri sebagai seorang guru SD yang baru saja ditugaskan di pulau kecil di batam.
    saya berandai
    bagaimana penyakit yg diderita beliau itu
    suatu hari saya alami

    walau saya tidak mengetahui dan tak mengenal beliau
    namun hati ini ingin skali meringankan masalah yg sedang beliau alami
    katakanlah dengan sedikit membantu dengan rezki yg telah Allah berikan pada saya
    tapi bagaimana caranya??

  2. ya.. sudah menjadi tugas kita bersama untuk terus menjaga dan melestarikan budaya Melayu

Leave a Reply