Pohon Perhimpunan – Raja Ali Kelana

di Tanjungpinang, tanpa disengaja saya menemukan sebuah buku karya Hasan Junus tentang kumpulan naskah kuno yang dituliskannya ke dalam aksara latin, salah satunya sebuah karya Raja Ali Kelana yang berjudul Puhon Perhimpunan.

sekilas saya membaca tulisan Raja Ali Kelana dan tertarik untuk mengenalnya lebih dalam. pada buku karya Raja Ali Kelana: Pohon Perhimpunan, ia menuliskan perjalanannya mengelilingi pulau tujuh. banyak hal yang ia ceritakan dalam bukunya itu. seperti saat ia berkunjung ke jemaja, ia bertemu dengan pedagang dari china yang sedang berjudi di warung kopi, menikmati keindahan gugusan pulau di jemaja dan kehidupan perekonomian masyarakat jemaja. selain jemaja, masih bayak pulau lain yang ia kisahkan dalam bukunya itu.

sangat sulit bagi saya memahami buku karya Raja Ali Kelana tersebut. ia menuliskan  buku tersebut dalam bahasa melayu. selain struktur bahasa yang digunakan masih sangat kuno, banyak kata-kata yang digunakan masih menggunakan kata dalam bahasa melayu tradisional.

terlepas dari itu semua saya sangat terkesan dengan isi buku tersebut. saya tidak pernah menemukan naskah asli tulisannya itu. dalam tulisannya disebutkan beberapa kali konselir belanda -orang yang menemaninya melakukan perjalanan pada masa itu- mengambil foto-foto dari kejadian yang mereka alami pada saat melakukan perjalanan, dan di sisipkan dalam buku karyanya tersebut.

perjalanan Raja Ali Kelana tersebut atas permintaan pemerintah belanda yang berkuasa pada saat itu (1927). segala hal yang ia temui di dalam perjalananya ter-rekam dalam tulisan yang ia beri judul Pohon Perhimpunan tersebut. mulai dari struktur sosial ekonomi, religi, budaya hingga kekayaan alam dan keindahan alam pulau tujuh jelas tergambar secara detail. pada saat itu pemerintah belanda telah mengenal pulau tujuh berikut yang terkanding di dalamnya, mungkin hingga sekarang rekaman tersebut masih mereka simpan.

saat saya mencari buku tersebut di mesin pencari google dan yahoo; ternyata buku Pohon Perhimpunan karya Raja Ali Kelana tersebut pernah diterbitkan sebanyak dua kali oleh Balai Pustaka (1983) dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1986), sekali lagi saya juga belum menemukannya. tapi sayang struktur bahasa dan kata yang digunakan masih menggunakan bahasa melayu kuno. perlu kajian labih dalam dalam penterjemahan buku tersebut.

hal ini menjadi pelajaran bagi saya bagaimana kita mencintai sesuatu yang kita miliki. dengan mempelajarinya maka kita akan mengenalnya, seterusnya bagaimana kita menjaganya dan kemudian secara otomatis kita akan mencintainya. hari ini, segalanya menjadi terbalik, kita mencintai tapi kita tidak mengenalnya terlebih dahulu.

saya membutuhkan bantuan pembaca sekalian. saya mencari naskah asli buku karya Raja Ali Kelana yang berjudul Pohon Perhimpunan tesebut. sesungguhnya masih banyak rahasia yang tersimpan di Kepulauan Riau yang perlu kajian labih dalam. semoga segala sesuatu yang telah kita lakukan untuk Bumi Melayu : Kepulauan Riau tidak hanya dimulut saja.***

~ by Mhd Dedy Saputra on November 28, 2008.

Leave a Reply