Catatan Dari The Hague
sob, mulai senin 19 mei 2008, akan saya ceritakan perjalanan panjang ke den haag – netherland. yah, mudah-mudahan ada bayak waktu untuk ditulis di blog ini.
- 19 mei 2008
berangkat dari tanjungpinang menuju singapura. hm.. 12.00 dari dermaga internasional tanjungpinang. akhirnya sampai di terminal ferry tanamerah singapura pukul 14.00. hampir 9 jam menunggu di bandara changi untuk penerbangan klm direct ke amsterdam pukul 22.00 dari singapura.
sekarang saya di bandara changi singapura mengakses internet gratis di bandara internasional ini. hm.. kapan di bandara sukarno hatta dan bandara-bandara besar di indonesia dapat seperti ini. sekarang pukul 21.51, sebentar lagi gate 22C dibuka… saya akan terbang ke amsterdam, sampai berjumpa sobat.
bersambung …
- 27.05.02 akhirnya saya kembali ke indonesia, tepatnya pulau bintan. sudah satu minggu saya di den haag dan mampir di amsterdam.
catatan kecil dari ingatan:
- pencarian makna kebangkitan nasional
jam 6.30 pagi pada tanggal 20 mei 2008, hari itu tepat 100 tahun kebangkitan nasional bangsa indonesia, saya menjejakkan kaki di bandara schipol amsterdam, netherland -nagara maju yang kaya setelah 340 tahun menjajah nusantara indonesia. hari itu cuaca sangat cerah, 7 derajat selsius. ini adalah pengalaman pertama menjejakkan kaki di belanda, dan momen itu adalah hari kebangkitan nasional. mungkin sama saja seperti di indonesia, suasana kebangkitan nasional biasa-biasa saja tetapi dalam batin saya ini adalah jawaban akan pencarian makna kebangkitan nasional itu sendiri.
- kekayaan kita ada disana
melihat kemegahan bandara schipol amsterdam saya kembali mambayangkan ketika ratusan ribu bangsa indonesia dijadikan pekerja paksa pada pemerintahan kolonial belanda pada masa penjajahan dulu, bahkan ratusan ribu ton kekayaan alam indonesia diambil untuk kemakmuran negeri kincir angin itu. sungguh ironis jika kita bandingkan dengan negara kita. negeri nusantara yang sangat kaya dengan hasil bumi justru sangat tertinggal dengan negara “kecil” ini. andai saja kita pintar mengelola sumberdaya yang ada di bumi indonesia ini, kita tidak akan pernah tertinggal dengan negara-negara besar di eropa. bangkitlah sobat!
- bangsa belanda sekarang
di negera belanda ada 700.000 warga negara indonesia disana, pemegang paspor hijau berlambang garuda. jumlah itu tidak termasuk untuk warga negara belanda yang berdara indonesia dan berjiwa wawasan nusantara. ternyata banyak sekali orang-orang yang “peduli” terhadap kebudayaan bangsa indonesia. mereka, walaupun bukan warga negara indonesia ikut memelihara dan mengembangkan kebudayaan kita. bangsa belanda merasa mempunyai akar budaya yang sama dengan bangsa indonesia. secara historis kita mempunyai ikatan yang sangat kuat. tapi ingat kawan, mereka tetap saja pernah membuat bangsa kita menderita!
- belajar dari den haag
simbol-simbol kebesaran bangsa indonesia menjadi simbol kebanggaan sebagian masyarakat belanda. mereka bangga dengan lambang garuda, bangga dengan kebesaran tokoh soekarno, mereka juga mempelajari wayang dan batik, mereka hapal beberapa lagu nasional indonesia, mereka ikut menari bersama, mereka menikahi orang-orang jawa, mereka bekerja dengan orang-orang batavia, mereka bekerja di restoran indonesia, memajang lukisan perempuan indonesia, membeli kerajinan bangsa indonesia dan mereka berteman dengan orang batak (mereka menyebutnya sebagai batakers). sungguh mereka mampu berbudaya dan berbahasa indonesia yang ramah.
saya sangat merindukan suasana indonesia yang ramah dan penuh kasih sayang. tapi saya masih ingin banyak belajar menghargai hidup, menjaga harga diri saya sebagai bangsa indonesia, sebagai orang melayu yang mau tahu dengan kemelayuannya. den haag dan ansterdam terlalu indah untuk saya cintai. tetapi negeri ini telah banyak mengajarkan saya arti kesederhanaan, ketidakberdayaan, ketertinggalan, kebodohan dan kemiskinan.. dengan segala kekurangannya saya menjadi tahu besarnya sebuah makna kemakmuran. kita sedang dipersimpangan jalan, mencari tujuan dan arah untuk masa depan…
ketika saya sadar bahwa pencarian makna kebangkitan nasional itu telah saya temukan, saya merasa kehilangan. ternyata bangsa kita kehilangan jati dirinya sebagai bangsa indonesia. kita telah melalui fase perubahan yang begitu fundamental. rasa kasih sayang, saling menghargai dan menghormati, gotong royong dan sikap-sikap nasionalisme dan patriotisme telah luntur. sobat, bangkitkan lagi rasa itu untuk kehidupan anak cucu kita nanti..


Leave a Reply