Dirgahayu ke 64 RI

•August 13, 2009 • Leave a Comment

64indonesiaindonesian64thindonesiaresize

Membranding Tanjungpinang

•June 30, 2009 • Leave a Comment

Tanjungpinang adalah ibukota propinsi Kepulauan Riau. Namun tidak banyak orang awam yang tahu dengan kondisi tersebut. Menyebut propinsi Kepulauan Riau a.k.a. KEPRI saja harus berulang-ulang kali agar tidak disamakan dengan propinsi Riau. Jika ada yang bertanya asal domisilih, Saya harus menjelaskan berulang-ulang bahwa KEPRI adalah propinsi baru karena pemekaran wilayah propinsi Riau pada saat itu, apalagi Saya harus menjelaskan letak kota Tanjungpinang, hmm saya harus menyebut kota Batam dan pulau Bintan sebagai pengantar pembicaraan. Apakah Tanjungpinang tidak sepopuler kota batam dan pulau Bintan?

Orang-orang “awam” (tentunya yang tidak tinggal di propinsi KEPRI) lebih mngenal Batam dan Bintan jika dibandingkan Tanjungpinang. Siapa yang tidak kenal dengan Batam? Setidaknya orang-orang menggambarkan Batam sebuah pulau yang sangat maju, banyak barang-barang selundupan, murahnya belanja elektronik di Batam, tempat mencari Balckberry BM yang murah, sebagai transit jika ke Singapura, ada sodara mereka yang tinggal di Batu Aji atau di Muka Kuning karena bekerja sebagai buruh pabrik di sana. Batam berhasil membentuk opini orang awam bahwa positioning Batam seperti keadaan yang saya sebutkan di atas.

Pemerintah Kota Batam tidak perlu membentangkan Baligo besar dijalan utama kota Bandung seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bintan. “Bintan.. Breath-Taking Journey” tulisan bergambar keindahan alam Kabupaten Bintan dipajang dalam baligo besar di sekitar jalan menuju Dago dan BIP (pusat bisnis kota Bandung). Melihat baligo itu tergambar di benak Saya bahwa ternyata kabupatrn Bintan tidak puas dengan usahanya yang cukup sukses menjual Bintan ke seluruh dunia lewat tim pemasaran PT. Bintan Resort Cakrawala (atau Bintan Megah Wisata??). Pemerintah Kabupaten Bintan sangat fokus memperkenalkan Bintan dari seluruh pelosok Nusantara hingga ke negeri Cina.

Bagaimana dengan Tanjungpinang? kembali seperti yang telah Saya sebutkan diatas, bahwa Saya harus berulang-ulang kali menjelaskan bahwa Tanjungpinang adalah sebuah ibukota propinsi, yang terletak “dekat” dengan pulau Batam dan berada di pulau Bintan, penjelasan ini khususnya untuk orang-orang awam tentunya. Apa yang ada di Tanjungpinang? apa yang bisa kita jual untuk memperkenalkan Tanjungpinang? Tanjungpinang mempunyai kultur melayu yang sangat kental. Adat dan tradisi masyarakat melayu masih dipertahankan. Tanjungpinang mempunyai peninggalan kerajaan besar melayu (pada saat itu) yang masih dipelihara dengan baik. Tutur kata dan tingkah laku masyarakatnya masih sangat menjaga tradisi melayu yang santun. Setuju jika Walikota Tanjungpinang memperkenalkan Tanjungpinang sebagai “Kota Gurindam Negeri Pantun” ke Jakarta lewat buku-bukunya dan diskusi-diskusi budaya.

Berpijak dari tag line “Tanjungpinang Kota Gurindam Negeri Pantun” seyogianya masyarakat harus lebih peka terhadap budaya melayu yang seharusnya benar-benar milik masyarakat kota Tanjungpinang. Gurindam dan Pantun harus menjadi produk utama yang layak di jual, disamping budaya melayu yang penuh nilai kesopanan itu sendiri. Sebuah produk akan laku di jual ketika kuliatas dan kemasannya menarik untuk di beli (konsumsi). Bagaimana mengemas produk utama Tanjungpinang? Budaya melayu, gurindam, pantun dan peninggalan-peninggalan sejarah kerajaan melayu harus di kemas sedemikian rupa agar laku di pasar nusantara dan dunia.

Mengemas produk utama Tanjungpinang tidak hanya tugas pemerintah semata. Lihatlah Bali, Jogjakarta, Bandung, Singapura; mereka maju dan berkembang serta di kenal masyarakat luas bukan hanya hasil kerja keras pemerintahnya saja, tapi seluruh masyarakat ikut serta bagaimana memperkenalkan keunggulan daerah mereka masing-masing. Bali dan Jogjakarta berhasil menjual budayanya hingga ke seluruh dunia. Bandung berhasil menjual industri kreatifnya hingga ke seluruh nusantara. Batam dan Bintan cukup berhasil menjual “tanah”nya sebagai kawasan investasi dunia. Tanjungpinang belum apa-apa. Lihatlah seberapa besar peran masyarakat Tanjungpinang untuk memajukan daerahnya.

(emosi) Sementara orang lain menjalin kerjasama mengemas produk daerahnya, masyarakat kita (Tanjungpinang) masih berdebat panjang di kedai kopi membahas hal-hal yang diluar kemampuan dan kewenangannya. Saling menyalahkan, saling memperebutkan, saling mencurigai. (Bukan saling bergandengan tangan — ngapain?)

Yang perlu kita lakukan bersama adalah membranding Tanjungpinang dengan cara-cara elegan dan kreatif. Tetangganya (Bintan dan Batam) cukup sukses, kenapa tidak mencontohi mereka, toh kulturnya sama. Tanjungpinang cukup ideal dengan positioning sebagai Kota Budaya. Tag line Kota Gurindam Negeri Pantun cukup pantas disandangnya. Hanya saja bagaimana memasarkannya, berawal dari kemasan dan cara mempromosikannya. Kemaslah Tanjungpinang sebagi kota yang penuh dengan budaya melayu, banggalah berpakian “seperti” orang melayu, berbicara dan bertutur dengan bahasa melayu, bertingkah laku “seperti” orang melayu, bernyanyi dan menarilah dalam gerak melayu, makan dan minum dengan masakan melayu. Tapi kemaslah dengan cara yang kreatif dan baru.

Ya kita harus terus belajar, balajar budaya yang benar-benar melayu dan belajar memasarkan sesuatu dengan cara-cara yang baru, serta belajar bertingkah laku yang sesuai dengan budaya melayu. Bukan malah latah meniru gaya orang lain dan melupakan gaya melayu. (bersambung)

Drinking In Tanjungpinang

•June 20, 2009 • Leave a Comment

Although Indonesia is an Islamic country, alcoholic drinks are available in most of the cafes and restaurants, nonetheless. Non-Muslim Indonesian drink alcohol only in social setting.

If you like to drink new things, try the local “Double Kiwi”, which comes in clear (i.e. vodka-like) and amber (i.e. whisky-like) fashions, at only 15-20 degrees alcohol.

Guru yang Melestarikan Budaya Melayu

•March 30, 2009 • 2 Comments

entah sebab apa saya ingin menuliskan namanya di dalam blog ini.  hari ini saya sedang mengingatnya, apakah mungkin karena Ia dalam keadaan sakit dan butuh bantuan? ah.. sepertinya bukan karena itu: saya tertarik dengan perbuatan yang telah ia laukan, menanamkan rasa ke-melayu-an pada generasi muda Tanjungpinang sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu.

hari itu, kurang lebih sebulan yang lalu, saya mengunjungi rumahnya. masih ditempat yang sama seperti 10 tahun yang lalu. ya, 10 tahun yang lalu: hari pertama saya mengunjungi rumahnya, belajar menari melayu.  banyak kenangan yang terus melekat di benak saya, apa lagi saat melewati teras rumahnya: teras tempat pertama kali saya melangkahkan rentak zapin dan serampang duabelas yang diajarkannya.

hari itu sengaja saya membawa serta istri saya ke rumah beliau, pak amir tak pernah hadir pada hari pernikahan saya, saat itu beliau sedang sakit. ya sakit yang telah lama ia derita, sejak kecelakaan lalu lintas itu.

seperti biasa, beliau senang bercerita dengan topik apa saja. ia lebih suka kalau tetang sakitnya itu tidak dibahas. ia menganggap dirinya tak pernah sakit seperti ini. beliau cukup tegar dengan keadaannya saat ini.

Pak Amir (begitulah kami biasa memanggilnya) adalah seorang guru dan seniman yang sangat menjaga tadisi dan kebudayaan melayu. ia seorang penari, koreografer tari, pengajar tari, penutur melayu, penulis buku, pembicara dalam seminar-seminar bahasa, mendalami kesusasteraan, pintar berpantun, berpuisi, membaca gurindam, pak amir selalu saja di sibukkan dengan kegiatan yang beraroma pendidikan, kebuayaan dan kesenian. bagi kami, pak amir adalah gudang ilmu kesenian dan kebudayaan melayu. 

saat itu (saat saya menjenguknya) ia bercerita bahwa ia telah berusaha mengobati penyakit yang ia derita setelah kecelakaan lalu lintas. berobat ke malaka hospital di malaysia hingga ke jakarta, tapi tetap saja gumpalan darah di kepalanya belum bisa disedot, ia membutuhkan biaya operasi. gumpalan darah itu menyebabkan pak amir tidak bisa berangkat mengajar, hal itu menyebabkan gangguan pada syaraf-syarafnya. pak amir membutuhkan bantuan untuk operasi penyedotan darah di kepalanya itu.

lewat facebook telah saya umumkan perihal sakitnya tersebut, dan banyak tanggapan kawan2 alumni SMA I yang ingin membantu beliau. semoga saja lewat tulisan ini, banyak kawan2 dan siapa saja yang tergerak hatinya membantu meringankan beban pak amir.

jika pak amir sembuh, kami akan kembali menggali ilmu yang ia miliki, mengeksplorasi kebudayaan melayu dari kepalanya yang sekarang sedang dipenuhi gumpalan darah dan harus segera diangkat.

Generasi Narsis Jelang Pemilu 2009

•February 23, 2009 • 3 Comments

m***, kuat dan bergairah..???

salah satu calon legislatif mencitrakan dirinya pada sebuah banner yang terpajang di sepanjang jalan-jalan utama di salah satu kota di K******** R*** dengan tiga kata di atas: m***, kuat dan bergairah. terlintas di benak saya apakah ini iklan obat kuat bagi pria dewasa? aneh, ada caleg yang berkampanye dengan pencitraan seperti itu. lantas siapa yang akan menjadi target pemilihnya? apakah anda juga tertarik dengan profil caleg seperti itu?

melihat berbagai media kampanye baik melalui banner, iklan di media cetak atau di televisi ada berbagai macam versi yang digunakan oleh calon-calon legislatif kita untuk menarik perhatian pemilih. malah banyak yang terkesan tidak efektif. mereka para caleg kita seperti asal-asalan saja mengkampanyekan dirinya – walaupun ada beberapa caleg yang terlihat smart dalam berkampanye.

banyak caleg-caleg kita salah kaprah dalam berkampanye. kampanye yang mereka lakukan seperti kampanye untuk pooling sms pemilihan idola televisi: menampilkan wajah dan gaya yang eksentrik, menapilkan foto layaknya seorang model sinetron atau memamerkan otot keperkasaannya. lantas apa yang mereka harapkan dengan iklan atau media kampanye seperti itu? menjadi publik figur? selebriti? jangan-jangan caleg kita sedang digandrungi virus narsis seperti ABG jaman sekarang.

ini bukan pemilihan idola lewat sms, atau pemilihan kepala daerah, tapi ini pemilihan wakil rakyat. rakyat akan menentukan siapakah wakilnya yang akan menduduki kursi anggota dewan perwakilan ini. rakyat perlu tahu siapa calon wakilnya kelak, apa saja yang akan diperjuangkan di dewan nanti, seperti apa figurnya, bagaimana prilakunya, bangaimana kontibusinya terhadap masyarakat selama ini, hal-hal tersebut yang jadi pertimbangan rakyat kita sekarang.

mudah-mudahan caleg kita nanti lebih banyak mencitrakan dirinya sebagai wakil rakyat yang benar-benar mewakili rakyatnya, bukan mewakili dirinya sendiri. uang dan media kampanye yang banyak tidak menjadi jaminan untuk mendapatkan suara rakyat yang banyak. tapi bertindaklah sesuai keinginan rakyat, perjuangkan untuk kepentingan rakyat, maka insyaallah rakyat akan memihak kepada caleg tersebut.**

Munir: pembela HAM di Indonesia

•November 30, 2008 • Leave a Comment

“saya menggunakan pesawat Garuda ke Belanda karena dengan begitu saya bisa ikut serta memberikan kontribusi pajak dan devisa kepada negara. itu sangat penting (untuk kesejahteraan rakyat kita)”, itulah alasan Munir mengapa Ia memutuskan untuk menggunakan pesawat Garuda sebagai alat transpotrtasi ke Belanda, yang pada akhirnya “Garuda” membunuh dirinya.

berikut adalah biografi munir, sebagai pahlawan pembela HAM di Indonesia. tulisan ini diolah dari beberapahttp://pulaupaku.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gifsumber:

Munir adalah pria sederhana yang bersahaja. Ia merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara Said Thalib dan Jamilah. Ia adalah seorang tokoh, seorang pejuang sejati, seorang pembela HAM di indonesia. Pria kelahiran Malang, 8 Desember 1965 ini adalah seorang aktivis muslim ekstrim yang kemudian beralih menjadi seorang Munir yang menjunjung tinggi toleransi, menghormati nilai-nilai kemanusiaan, anti kekerasan dan berjuang tanpa kenal lelah dalam melawan praktek-praktek otoritarian serta militeristik.

Munir adalah seorang aktivis yang sangat aktif memperjuangkan hak-hak orang tertindas. Selama hidupnya ia selalu berkomitmen untuk selalu membela siapa saja yang haknya terdzalimi. Tidak gila harta, pangkat, jabatan, dan juga fasilitas. Ia membuktikannya dengan perbuatan. Ketika ia mendapatkan hadiah ratusan juta rupiah sebagai penerima “The Right Livelihood Award” ia tidak menikmatinya sendiri, melainkan membagi dua dengan Kontras, dan sebagian lagi diserahkan kepada ibunda tercintanya. Di tengah maraknya pejabat berebut fasilitas, Munir malah tidak tergoda. Ia tetap menggunakan sepeda motor sebagai teman kerjanya. Seorang tokoh kelas dunia yang sangat bersahaja.

Gelar SH didapatkannya dari sebuah universitas terkemuka di Malang, Unibraw. Selama menjadi mahasiswa, Munir dikenal sebagai aktivis kampus yang sangat gesit. Ia pernah menjadi Ketua senat mahasiswa fakultas hukum Unibraw pada tahun 1998, koordinator wilayah IV asosiasi mahasiswa hukum indonesia pada tahun 19989, anggota forum studi mahasiswa untuk pengembangan berpikir di Unibraw pada tahun 1988, Sekretaris dewan perwakilan mahasiswa hukum Unibraw pada tahun 1988, sekretaris al-Irsyad cabang Malang pada 1988, dan menjadi anggota Himpunan Mahsiswa Islam (HMI).

Munir mewujudkan keseriusannya dalam bidang hukum dengan cara melakukan pembelaan-pembelaan terhadap sejumlah kasus, terutama pembelaannya terhadap kaum tertindas. Ia juga mendirikan dan bergabung dengan berbagai organisasi, bahkan juga membantu pemerintah dalam tim investigasi dan tim penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU).

Beberapa kasus yang pernah ia tangani yaitu pada kasus Araujo yang dituduh sebagai pemberontak melawan pemerintahan Indonesia untuk memerdekakan Timor timur dari Indonesia pada 1992, kasus Marsinah (seorang aktivis buruh) yang dibunuh oleh militer pada tahun 1994, menjadi penasehat hukum warga Nipah, Madura, dalam kasus pembunuhan petani-petani oleh militer pada tahun 1993, menjadi penasehat hukum mahasiswa dan petani di Pasuruan, dalam kasus kerusuhan di PT.Chief Samsung, dengan tuduhan sebagai otak kerusuhan pada tahun 1995, Penasehat hukum Muhadi (sopir) yang dituduh melakukan penembakan terhadap seorang polisi di Madura, Jawa Timur pada 1994, penasehat hukum para korban dan keluarga Korban Penghilangan Orang secara paksa 24 aktivis politik dan mahasiswa di Jakarta pada tahun 1997 hingga 1998, penasehat hukum korban dan keluarga korban pembantaian dalam tragedi Tanjung Priok 1984 hingga 1998, penasehat hukum korban dan keluarga korban penembakan mahasiswa di Semanggi I (1998) dan Semanggi II (1999), penasehat hukum dan koordinator advokasi kasus-kasus pelanggaran berat HAM di Aceh, Papua, melalui Kontras. Termasuk beberapa kasus di wilayah Aceh dan Papua yang dihasilkan dari kebijakan operasi Militer. Munir juga aktif di beberapa kegiatan advokasi dalam bidang perburuhan, pertanahan, Lingkungan, Gender dan sejumlah kasus pelanggaran hak sipil dan politik.

Pada Tahun 2003, Munir bersikeras untuk ikut dengan sejumlah aktivis senior dan aktivis pro demokrasi mendatangi DPR paska penyerangan dan kekerasn yang terjadi di kantor Tempo, padahal ia masih diharuskan beristirahat oleh dokter.

Pada tahun 2004, Munir juga bergabung dengan Tim advokasi SMPN 56 yang digusur oleh Pemda. Selain itu, ia juga seorang yang aktif menulis di berbagai media cetak dan elektronik yang berkaitan dengan tema-tema HAM, Hukum, Reformasi Militer dan kepolisian, Politik dan perburuhan.

Munir adalah sosok pemberanni dan tangguh dalam meneriakkan kebenaran. Ia adalah seorang pengabdi yang teladan, jujur, dan konsisten. Berkat pengabdiannya itulah, ia mendapatkan pengakuan yang berupa penghargaan dari dalam negeri dan luar negeri. Di dalam negeri, ia dinobatkan sebagai Man Of The Year 1998 versi majalah UMMAT, penghargaan Pin Emas sebagai Lulusan UNIBRAW yang sukses, sebagai salah seorang tokoh terkenal Indonesia pada abad XX, Majalah Forum Keadilan. Semenatara di luar negeri, ia dinobatkan menjadi As Leader for the Millennium dari Asia Week pada tahun 2000, The Right Livelihood Award (Alternative Nobel Prizes) untuk promosi HAM dan kontrol sipil atas militer, Stockholm pada December 2000, dan An Honourable Mention of the 2000 UNESCO Madanjeet Singh Prize atas usaha-usahanya dalam mempromosikan toleransi dan Anti Kekerasan, Paris, November 2000.

Wafat
Munir wafat pada tanggal 7 September 2004, di pesawat Garuda GA-974 kursi 40 G dalam sebuah penerbangan menuju Amsterdam, Belanda. Perjalanan itu adalah sebuah perjalanan untuk melanjutkan study-nya ke Universitas Utrecht. Ia dibunuh dengan menggunakan racun arsenik yang yang ditaruh ke makanannya oleh Pollycarpus Budihari Priyanto. Pollycarpus adalah seorang pilot Garuda yang waktu itu sedang cuti. Dan pada saat keberangkatan Munir ke Belanda, secara kontroversial ia diangkat sebagai corporate security oleh Dirut Garuda. Sampai sekarang, kematian seorang Munir, sang Pahlawan orang Hilang, sang pendekar HAM ini masih sebuah misteri.

Jenazahnya dimakamkan di taman makam umum kota Batu. Ia meninggalkan seorang istri bernama Suciwati dan dua orang anak, yaitu Sultan Alif Allende dan Diva.

Sejak tahun 2005, tanggal kematian Munir, 7 September, oleh para aktivis HAM dicanangkan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia.

|–|

Anda dapat melihat cuplikan film dokumenter pembunuhan munir di pesawat Garuda, pada post yang berjudul: Garuda’s Deadly Upgrade produksi journeyman.tv di blog ini.

 

Pohon Perhimpunan – Raja Ali Kelana

•November 28, 2008 • Leave a Comment

di Tanjungpinang, tanpa disengaja saya menemukan sebuah buku karya Hasan Junus tentang kumpulan naskah kuno yang dituliskannya ke dalam aksara latin, salah satunya sebuah karya Raja Ali Kelana yang berjudul Puhon Perhimpunan.

sekilas saya membaca tulisan Raja Ali Kelana dan tertarik untuk mengenalnya lebih dalam. pada buku karya Raja Ali Kelana: Pohon Perhimpunan, ia menuliskan perjalanannya mengelilingi pulau tujuh. banyak hal yang Continue reading ‘Pohon Perhimpunan – Raja Ali Kelana’

mengenang Wan Mohd Saghir Abdullah:

•October 25, 2008 • Leave a Comment

hari itu 12 April 2007, 10.50 pagi Ia kembali manghadap sang Khalik Allah SWT. meninggalkan 6 orang anak yang berusia 11 hingga 25 tahun. almarhum Wan Mohd Saghir Abdullah adalah tokoh ulama melayu malaysia yang mampu membuka tabir kebesaran Ulama Melayu Dunia Syech Abdullah Ahmad Al-Fattani. beliau adalah rujukan kepada akar kebudayaan melayu yang berkemabang di Nusantara. dalam usianya yang ke-62 tahun, beliau telah banyak mengabdikan diri kepada penulisan-penulisan artikel kebudayaan melayu pada harian malaysia : Utusan. beliau juga dikenal sebagai pengkaji kebudayaan melayu dalam seminar-seminar kebudayaan melayu dunia. dilahirkan di pulau Midai, Kepulauan Riau ia membesarkan kebudayaan melayu di tanah malaka – Malaysia hingga akhir hayatnya.

sinetron 24 jam

•October 24, 2008 • Leave a Comment

 

lihat saja program tv swasta nasional kita sekarang. setiap memindahkan channel tv, selalu disuguhkan Continue reading ’sinetron 24 jam’

she talks about bintan

•September 24, 2008 • Leave a Comment