Tanjungpinang adalah ibukota propinsi Kepulauan Riau. Namun tidak banyak orang awam yang tahu dengan kondisi tersebut. Menyebut propinsi Kepulauan Riau a.k.a. KEPRI saja harus berulang-ulang kali agar tidak disamakan dengan propinsi Riau. Jika ada yang bertanya asal domisilih, Saya harus menjelaskan berulang-ulang bahwa KEPRI adalah propinsi baru karena pemekaran wilayah propinsi Riau pada saat itu, apalagi Saya harus menjelaskan letak kota Tanjungpinang, hmm saya harus menyebut kota Batam dan pulau Bintan sebagai pengantar pembicaraan. Apakah Tanjungpinang tidak sepopuler kota batam dan pulau Bintan?
Orang-orang “awam” (tentunya yang tidak tinggal di propinsi KEPRI) lebih mngenal Batam dan Bintan jika dibandingkan Tanjungpinang. Siapa yang tidak kenal dengan Batam? Setidaknya orang-orang menggambarkan Batam sebuah pulau yang sangat maju, banyak barang-barang selundupan, murahnya belanja elektronik di Batam, tempat mencari Balckberry BM yang murah, sebagai transit jika ke Singapura, ada sodara mereka yang tinggal di Batu Aji atau di Muka Kuning karena bekerja sebagai buruh pabrik di sana. Batam berhasil membentuk opini orang awam bahwa positioning Batam seperti keadaan yang saya sebutkan di atas.
Pemerintah Kota Batam tidak perlu membentangkan Baligo besar dijalan utama kota Bandung seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bintan. “Bintan.. Breath-Taking Journey” tulisan bergambar keindahan alam Kabupaten Bintan dipajang dalam baligo besar di sekitar jalan menuju Dago dan BIP (pusat bisnis kota Bandung). Melihat baligo itu tergambar di benak Saya bahwa ternyata kabupatrn Bintan tidak puas dengan usahanya yang cukup sukses menjual Bintan ke seluruh dunia lewat tim pemasaran PT. Bintan Resort Cakrawala (atau Bintan Megah Wisata??). Pemerintah Kabupaten Bintan sangat fokus memperkenalkan Bintan dari seluruh pelosok Nusantara hingga ke negeri Cina.
Bagaimana dengan Tanjungpinang? kembali seperti yang telah Saya sebutkan diatas, bahwa Saya harus berulang-ulang kali menjelaskan bahwa Tanjungpinang adalah sebuah ibukota propinsi, yang terletak “dekat” dengan pulau Batam dan berada di pulau Bintan, penjelasan ini khususnya untuk orang-orang awam tentunya. Apa yang ada di Tanjungpinang? apa yang bisa kita jual untuk memperkenalkan Tanjungpinang? Tanjungpinang mempunyai kultur melayu yang sangat kental. Adat dan tradisi masyarakat melayu masih dipertahankan. Tanjungpinang mempunyai peninggalan kerajaan besar melayu (pada saat itu) yang masih dipelihara dengan baik. Tutur kata dan tingkah laku masyarakatnya masih sangat menjaga tradisi melayu yang santun. Setuju jika Walikota Tanjungpinang memperkenalkan Tanjungpinang sebagai “Kota Gurindam Negeri Pantun” ke Jakarta lewat buku-bukunya dan diskusi-diskusi budaya.
Berpijak dari tag line “Tanjungpinang Kota Gurindam Negeri Pantun” seyogianya masyarakat harus lebih peka terhadap budaya melayu yang seharusnya benar-benar milik masyarakat kota Tanjungpinang. Gurindam dan Pantun harus menjadi produk utama yang layak di jual, disamping budaya melayu yang penuh nilai kesopanan itu sendiri. Sebuah produk akan laku di jual ketika kuliatas dan kemasannya menarik untuk di beli (konsumsi). Bagaimana mengemas produk utama Tanjungpinang? Budaya melayu, gurindam, pantun dan peninggalan-peninggalan sejarah kerajaan melayu harus di kemas sedemikian rupa agar laku di pasar nusantara dan dunia.
Mengemas produk utama Tanjungpinang tidak hanya tugas pemerintah semata. Lihatlah Bali, Jogjakarta, Bandung, Singapura; mereka maju dan berkembang serta di kenal masyarakat luas bukan hanya hasil kerja keras pemerintahnya saja, tapi seluruh masyarakat ikut serta bagaimana memperkenalkan keunggulan daerah mereka masing-masing. Bali dan Jogjakarta berhasil menjual budayanya hingga ke seluruh dunia. Bandung berhasil menjual industri kreatifnya hingga ke seluruh nusantara. Batam dan Bintan cukup berhasil menjual “tanah”nya sebagai kawasan investasi dunia. Tanjungpinang belum apa-apa. Lihatlah seberapa besar peran masyarakat Tanjungpinang untuk memajukan daerahnya.
(emosi) Sementara orang lain menjalin kerjasama mengemas produk daerahnya, masyarakat kita (Tanjungpinang) masih berdebat panjang di kedai kopi membahas hal-hal yang diluar kemampuan dan kewenangannya. Saling menyalahkan, saling memperebutkan, saling mencurigai. (Bukan saling bergandengan tangan — ngapain?)
Yang perlu kita lakukan bersama adalah membranding Tanjungpinang dengan cara-cara elegan dan kreatif. Tetangganya (Bintan dan Batam) cukup sukses, kenapa tidak mencontohi mereka, toh kulturnya sama. Tanjungpinang cukup ideal dengan positioning sebagai Kota Budaya. Tag line Kota Gurindam Negeri Pantun cukup pantas disandangnya. Hanya saja bagaimana memasarkannya, berawal dari kemasan dan cara mempromosikannya. Kemaslah Tanjungpinang sebagi kota yang penuh dengan budaya melayu, banggalah berpakian “seperti” orang melayu, berbicara dan bertutur dengan bahasa melayu, bertingkah laku “seperti” orang melayu, bernyanyi dan menarilah dalam gerak melayu, makan dan minum dengan masakan melayu. Tapi kemaslah dengan cara yang kreatif dan baru.
Ya kita harus terus belajar, balajar budaya yang benar-benar melayu dan belajar memasarkan sesuatu dengan cara-cara yang baru, serta belajar bertingkah laku yang sesuai dengan budaya melayu. Bukan malah latah meniru gaya orang lain dan melupakan gaya melayu. (bersambung)


